Upaya Kolektif Pengendalian COVID-19

ACEHEKSPRES.COM – Sejak awal Januari lalu wabah corona virus disease 2019 (COVID-19) mulai membuat tatanan dunia berubah. Wabah ini pertama kali muncul di kota Wuhan, China dan terus berkembang sampai ke negara lain tidak terkecuali Indonesia.

Sejak awal Januari kabar mengenai Covid-19 sudah beredar di berbagai media sosial. Namun, Indonesia baru mengambil langkah ketika dua orang dinyatakan positif.

Akibatnya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) baru dilakukan pada pertengahan Maret lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih kurang responsif dalam mengambil kebijakan yang strategis.

Hingga sampai saat ini kasus COVID-19 masih terus memakan korban sedangkan vaksin masih belum temukan.

Sampai hari ini masih banyak kita temui masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan. Seperti berkumpul ditempat ramai, tidak mengenakan masker, tidak mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, sampai berlibur yang sebenarnya dapat ditunda terlebih dahulu.

Partisipasi masyarakat dalam hal ini masih kurang. Sejak pertama kali PSBB diumumkan tidak jarang kita temui akses publik seperti mall atau tempat hiburan yang masih memperbolehkan pengunjungnya datang.

Selain itu tempat-tempat umum pun masih dibuka dengan keketatan protokol kesehatan yang masih minim.

Setelah hampir tujuh bulan terperangkap dalam pandemi yang tidak kunjung usai. Pemerintah membuka kembali akses publik dengan istilah new normal.

Keadaan ini memperbolehkan masyarakat terutama bagi mereka yang harus bekerja diluar rumah untuk dapat kembali melakukan aktivitasnya.

Namun, sayangnya hal ini menjadi problematis ketika hampir semua orang berbondong-bondong untuk keluar rumah hanya demi hiburan semata.

Padahal era baru ini dimaksudkan agar roda perekonomian masyarakat kelas menengah bawah dapat terus berjalan. Perlu kita ketahui bahwa ketika masa awal pandemi terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) terutama pada sektor masyakarat informal.

Sehingga kebijakan new normal ini tidak luput dari kritikan beberapa pihak. Sebelum Indonesia memulai new normal, beberapa negara lain sudah memulai terlebih dahulu, seperti Selandia Baru.

Namun, keadaan Selandia Baru ketika itu sudah membaik dan berangsur-angsur pulih sampai akhirnya benar-benar tuntas dari korban positif COVID-19.

Berbeda dengan Indonesia yang sampai hari jumlah pasien terus bertambah. Hal ini dapat dilihat dengan pembukaan kembali PSBB gelombang dua di Jakarta setelah jumlah ranjang rumah sakit tidak dapat menampung kembali pasien COVID-19.

Jika ada yang mengatakan, termasuk pemerintah bahwa keadaan sudah baik-baik saja, maka itu adalah ilusi. Hal ini menjadi perbincangan yang digawangi empat orang,

yakni seorang doktor di bidang bedah saraf Muhammad Kamil; biomedical scientist Mutiara Anissa; data scientist Firdza Radiany; dan dokter sekaligus peneliti kesehatan masyarakat Pritania Astari.

Keempatnya membuka ruang diskusi seputar pandemi pada kanal podcast SePandemiTalks sebagai bentuk insiatif untuk mengisi gap informasi ke masyarakat terkait COVID-19.

Iklan Pelantikan Gebernur Nova 2020 dari Pemkab Nara

Mereka menjelaskan bahwa kenyataannya keadaan tidak pula kunjung membaik. Namun, beberapa akses publik justru sudah dibuka kembali.

Sejak awal Maret lalu terjadi pelipat gandaan 50 ribu pasien setiap bulannya, bahkan ada yang terjadi hanya dalam belasan hari.

Ketika penambahan kasus terjadi Indonesia tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan dari standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 38.500 hari.

Hal ini menunjukkan Indonesia masih gagal dalam merespon ujian dadakan melalui pandemi saat ini. Ada beberapa faktor yang menjadi latar belakang mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat sampai kebijakan publik yang simpang siur.

Gap informasi tidak hanya terjadi pada masyarakat namun juga pada pembuat keputusan. Pasalnya beberapa wilayah menerapkan aturan yang berbeda-beda. Sehingga penyebaran COVID-19 unggul di beberapa kawasan seperti ibukota.

Untuk menanggulangi wabah penyebaran Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan Naskah Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) pada Juli 2020.

Pada Bab VI terdapat pemaparan pencegahan dan pengendalian penularan yang dapat dilakukan oleh inidividu.

Masyarakat didorong untuk lebih tanggap dengan kesehatan diri sendiri yaitu ; mencuci tangan dengan aturan air mengalir selama 40-60 detik, menjaga jarak minimal satu meter, menggunakan alat pelindung berupa masker,

membatasi interaksi dengan luar jika tidak mendesak, setibanya keluar rumah untuk segera membersihkan tubuh dan pakaian yang baru saja dikenakan, dan memperkuat imun tubuh dengan memperbanyak aktivitas olahraga di rumah.

Selain itu penting pula untuk mencari alternatif untuk menjaga kesehatan mental selama berada di rumah dengan rutinitas pekerjaan dan sekolah yang masih berlangsung.

Selain melalui partisipasi individu, peran masyarakat untuk ikut bertanggung jawab secara koletif dengan melakukan upaya pencegahan berupa kampanye gaya hidup sehat seperti paparan diatas.

Kemudian adanya fasilitas sarana tempat cuci tangan yang memadai, himbauan untuk tetap menjaga jarak, akses masuk tempat umum yang diperketat dengan mematuhi protokol kesehatan, serta disinfeksi terhadap permukaan, ruangan, dan peralatan secara berkala.

Keadaan Indonesia tidak akan pulih seutuhnya jika hal paling mendasar seperti mencuci tangan tidak dilakukan oleh semua kalangan.

Pandemi global ini memberikan pelajaran pada setiap negara dan warganya untuk dapat lebih efektif menggunakan wewenangnya sebagai pembuat keputusan yang menyangkut nyawa umat manusia.

Pemberlakuan PSBB nyatanya tidak cukup ampuh untuk menekan angka kematian pasien COVID-19. Selain itu urgensi kesehatan masyarakat sering kali kalah saing dengan isu perpolitikan.

Hal ini terlihat dengan disahkannya RUU Minerba dimana harusnya kesehatan dan kesembuhan masyarakat menjadi prioritas utama. Hal ini memicu aksi massa untuk turun ke jalan menuntut penolakan.

Hal ini harusnya menjadi pusat perhatian pemerintah untuk lebih mawas diri terhadap kebijakan yang selama ini dikeluarkan. Bentuk penanganan COVID-19 sehebat apapun tidak akan mencapai tujuan jika posisi strategis masih dikuasai oleh orang-orang yang memiliki kepentingannya sendiri. [***]

Penulis
Nama : Aditya Fajar Perkasa
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Dosen pembimbing : Subhani, S.Sos., M. Si

Iklan Cuci Tanggan COVID-19 Nagan Raya
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.