Korban Pemalsuan Tanda Tangan Oknum Keuchik di Aceh Selatan Bertambah

TAPAKTUAN, ACEHEKSPRES.COM –  Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Advokasi dan Keadilan Aceh (YLBH AKA) Distrik Aceh Barat Daya (Abdya) kembali dampingi korban pemalsuan tanda tangan yang diduga dilakukan oleh oknum Keuchik Gampong Kuta Trieng, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan, Senin 15 Juni 2020.

YLBH AKA Abdya mendampingi korban atas nama Zulbaidah (43) yang mengalami stroke sejak empat tahun lalu ini juga ditemani suaminya, Yushadi MD untuk membuat laporan kepada Kepolisian Resort (Polres) Aceh Selatan.

Dalam keterangannya yang terbata-bata akibat stroke, Zulbaidah mengatakan, bahwa selama stroke dia tanda tangan dengan tangan kiri dan itu jelas berbeda dan tidak sama dengan dalam berita acara pengalihan.

“Selama stroke saya tanda tangan dengan tangan kiri pastinya berbeda dan tidak sama dengan dalam berita acara pengalihan bantuan itu, ini jelas membuktikan adanya pemalsuan terhadap tanda tangan,” kata Zulbaidah, Selasa 16 Juni 2020.

Saat ditanya oleh penyidik terkait pemalsuan tanda tangan, Zulbaidah mengaku tidak terima dengan alasan apapun yang mengatasnamakan dirinya dalam berita acara pengalihan bantuan dampak Corona Virus Disease  2019 (Covid-19).

“Seharusnya dipanggil dulu atau dikabari pengalihan itu, bukan serta merta begitu saja langsung memalsukan tanda tangan,” kata Zulbaidah dalam siaran pers yang diterima Acehekspres.com

Advokad YLBH AKA Abdya, Rahmat S.Sy, CPCLE., dan rekannya Pujiaman, S.H., mengatakan, Zulbaidah merupakan salah satu dari sekian korban yang mulai bersuara serta tidak terima atas apa yang diperbuat oleh oknum keuchik tersebut.

“Klien kami ini merupakan salah satu dari sekian korban pemalsuan tanda tangan yang mulai bersuara, dan tidak terima ulah nakal oknum keucik itu,” pungkas Rahmat.

Menurutnya, korban atas nama Zulbaidah tersebut tidak pernah mendapatkan sembako apapun dari pemerintah, bahkan disaat dirinya berhak dan namanya sudah terdata, bantuan tersebut malah dialihkan ke orang kain tanpa sepengetahuannya.

“Menurut pengakuannya, Zulbaidah tidak pernah mendapatkan bantuan sembako sama sekali, kali ini malah dialihkan kepada orang lain tanpa pengetahuan dari beliau dengan cara dipalsukan tanda tangannya,” ujarnya.

Rahmat menambahkan, mengenai pemberitaan yang dimuat oleh media beberapa waktu lalu, itu merupakan inisiatif warga tanpa ada paksaan dari pihak manapun

Ucapan Berdeka Meninggal Ibunda Wabup Nara dari Pemkab Nara

“Terkait pelaporan warga terhadap pemalsuan tanda tangan yang diduga oleh oknum keucik, itu bukanlah serta merta pelaporan tersebut ada paksaan dari pihak ketiga atau pihak ke empat, dan ini murni atas inisiatif warga yang merasa di rugikan tanda tanganya,” terang Rahmat.

Dia juga yakin, Zulbaidah bukanlah orang terakhir yang mau bersuara atas tindakan pemalsuan tanda tangan yang diduga dilakukan oleh oknum keucik gampong setempat.

“Kami yakin ini bukan korban terkahir yang mau berusaha, mungkin kedepannya masih ada warga lain yang ikut melaporkan oknum keucik tersebut,” tutup Rahmat.

Terkait pemberitaan ini, keucik Gampong Kuta Trieng masih belum bisa dihubungi untuk dimintai keterangan, bahkan pesan wartawan yang menghubunginya via aplikasi WhatsApp hanya dibaca tanpa ada balasan.

Awalnya, salah satu korban berinisial KRS (41) telah melaporkan kasus yang sama ke Polres Aceh Selatan, artinya korban pemalsuan tanda tangan terus bertambah.

Sebelumnya, Keuchik Gampong Kuta Trieng, Yuhanda, dihubungi via telepon seluler menjelaskan, pengalihan bantuan Covid-19 tersebut dikarenakan beberapa penerima telah terdaftar namanya di bantuan dari Dinas Sosial dan bantuan lain.

“Kami menjalankan tugas sesuai aturan, batuan sembako yang dikirim pemerintah daerah sudah dipaket, dan diberikan pada penerima dengan syarat yang benar-benar membutuhkan dan tidak boleh diberikan kepada yang sudah menerima bantuan lain, walaupun namanya ikut tertera,” kata Keuchik Yuhanda, Rabu 3 2020.

Yuhanda menambahkan, aparatur gampong setempat memutuskan untuk membagikan bantuan tersebut kepada masyarakat yang belum pernah mendapatkan bantuan lain dan yang membutuhkan.

”Kami alihkan bantuan itu juga untuk masyarakat, kalau itu juga salah kami menyerah, kecuali sembako tersebut kami bawa pulang ke rumah kami,” tegasnya

Yuhanda juga menyanggah terkait adanya dugaan pemalsuan tanda tangan terhadapnya, dan mengaku dirinya merasa tidak pernah menandatangani terkait penerima bantuan yang bersumber dari pemerintah daerah.

“Yang tanda tangan bukan saya, yang tanda tangan itu penerima bantuan yang telah dialihkan sesuai dengan musyawarah,” tegasnya lagi

Yuhanda juga mengaku telah melakukan mediasi dan musyawarah dengan perangkat Gampong Kuta Trieng di kantor Keuchik setempat, kemudian selanjutnya di aula Kantor Camat Labuhan Haji Barat yang turut dihadiri oleh perwakila  dari Dinas Sosial dengan hasil tidak masalah.[]

Iklan Sosialisasi Covid-19 dari Pemkab Nagan Raya
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.