Kasus Pemerkosaan Anak Tiri di Nagan Raya Dilimpahkan

Iklan Pelantikan DPRK

SUKA MAKMUE, ACEHEKSPRES.COM Kasus pemerkosaan anak tiri yang dilakukan oleh  tersangka GNW (40), dengan sejumlah Barang Bukti (BB) telah dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Nagan Raya untuk diproses lebih lanjut, Senin, 1 April 2019.

“Kita telah melakukan tahap II penyerahan tersangka dan sejumlah barang bukti kepada Kejaksaan Negeri Nagan Raya terhadap kasus pencabulan dan persetubuhan terhadap anak dengan BP/08.a/III/2019/ reskirim untuk diproses lebih lanjut, kata Kapolres Nagan Raya AKBP Giyarto SH SIK melalui AKP Boby Putra Ramadhan sebayang, Senin.

Dalam penyerahan tersebut, polisi menyerahkan sejumlah barang bukti diantaranya satu lembar baju kemeja warna hitam lengan panjang, satu lembar celana piyama warna pink motif bintik-bintik hitam, satu lembar celana dalam wanita warna coklat, satu lembar BH warna coklat, satu lembar kain sarung warna biru dan pink motif kotak-kotak dan satu lembar celana pendek motif loreng.

Sebelumnya, kasus dugaan pemerkosaan dan pencabulan terhadap anak dibawah umur tersebut sudah terjadi sejak bulan Juli 2016 hinga pelaku ditetapkan sebagai tersangka pada 19 Maret 2019, dimana aksi pemerkosaan itu dilakukan pelaku GNW kepada anak tirinya di ruang tamu rumahnya saat kondisi rumah sedang sepi, dan tidak diketahui oleh isterinya selaku ibu dari  korban.

Dikatakan AKP Boby, motif persetubuhan yang dilakukan tersangka GNW itu dikarenakan tersangka mengetahui bahwa anak tirinya itu diduga sudah tidak perawan sehingga, untuk melampiaskan nafsunya itu tersangka membujuk untuk melakukan hubungan intim dengannya dan berjanji tidak akan melaporkan kepada ibu korban jika korban menerima tawarannya itu.

Kemudian, perbuatan tak senonoh yang dilakukan pelaku itu berlanjut 3 tahun lamanya, sejak korban masih berusia 13 tahun sampai korban berusia sekitar 16 tahun.

Akibat perbuatannya itu tersangka GNW yang merupakan ayah tiri korban dijerat dengan pasal 76E Jo Pasal 76D UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2002  Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 82 Ayat (1) dan (2) Jo Pasal 81 Ayat (1), (2) dan (3) UU No. 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 tahun 2016 Tentan Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.

Sanksi dari tindak pidana tersebut dapat dilihat dalam Pasal 81 dan Pasal 82 Perpu 1/2016 dimana setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.[]

Iklan Ucapan Selamat DPRK dari PT Socfindo Seumanyam
Anda mungkin juga berminat

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.