Ie Bue Peudah Makanan dari 44 Macam Rempah-rempah

Iklan Pelantikan DPRK

JANTHO, ACEHEKSPRES.COM– Dari jauh tampak asap mengepul diatas belanga besar. Beberapa pemuda sibuk membesarkan api dengan kayu yang sudah dipotong dan disusun rapi. Sementara yang lainnya mengaduk hingga rata memakai sebilah rotan.

Keningnya sedikit mengerut melawan asap semakin pekat diwajahnya. Suasana yang awalnya hening mulai riuh kecil terdengar di belakang meunasah Desa Bueng Bak Jok, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar, Aceh.

Mereka sedang memasak salah satu makanan tradisional yang mereka sebut Ie Bu Peudah makanan yang hanya ada saat bulan Ramadan tiba.

Tidak heran jika Aceh terkenal dengan budaya dan kulinernya. Ie Bue Peudah salah satu dari sekian banyak makanan tradisional Aceh yang masih dipertahankan sampai saat ini di julukan bumi Serambi Mekkah.

Cara pembuatan ie bue peudah dilakukan dengan cara bergotong royong. Biasanya dimulai setelah Zuhur atau pukul 14.00 WIB hingga Ashar atau pukul 17.00 WIB.

“Biasanya yang masak anak muda di desa sini, kurang lebih tiga jam, baru masak,” kata Kepala Desa Bueng Bakjok,Hafidh Maksum saat ditemui beberapa hari lalu.

Ie bue peudah sendiri memakai bahan utama beras yang dicampur dengan 44 macam rempah-rempah dan biasanya bahan itu kebanyakan diambil dihutan seperti daun peugaga, daun capa, oen tahe, daun muling, bahan lainya kunyit, Lada dan bahan rempah lainya.

“Manfaatnya sangat banyak, salah satu khasiatnya diyakini bisa menyembuhkan gatal-gatal di kulit, untuk kesehatan sangat baik,” ungkapnya.

Untuk mempermudah persiapan bahannya, sepuluh hari sebelum memasuki bulan Ramadan, bahan-bahan pembuat ie bue peudah sudah dicari terlebih dahulu.

Untuk masyarakat Desa Bueng Bak Jok, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar biasanya dalam sehari memghabiskan enam bambu beras biasa dan dua bambu beras campuran.

“Itu dibagikan setiap harinya kepada 270 keluarga yang ada didesa ini,” kata Hafidh Maksum.

Dijelaskan Hafidh, Tradisi ie bue peudah ini sudah dilakukan sejak masa kerajaan Aceh Darussalam pada Abad ke 15 Masehi. Konon kata Hafidh kenapa pembuatan ie bue peudah di mushalla atau masjid dikarena banyak anak-anak yang senang berkumpul, maka pada saat itu titik strategis ialah masjid atau mushalla.

“Biar tidak menggangu ibunya yang sedang menyiapkan makanan untuk berbuka,” kisahnya.

Kemudian kata Hafidh, untuk dana yang digunakan memasak ie bue peudah itu didapatkan dari hasil menjual beras yang dipanen dari sawah wakaf yang ada didesanya.

“Tapi ada juga yang menyumbang dengan sukarela dari masyarakat setempat,” katanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.10 WIB sore, tadinya hanya beberapa pemuda, kini mulai ramai didatangi masyarakat mulai dari yang tua hingga anak-anak.

Seorang koki mulai mengangkat ie bue peudah dengan menuangkan satu persatu kedalam ember kecil petanda ie pue beudah sudah masak dan mulai dibagikan kepada masyarakat yang mengantri dengan rapi.[]

Penulis: Fahzian Aldevan
Editor: Redaksi

Iklan Ucapan Selamat DPRK dari PT Socfindo Seumanyam

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.